Macet Level Dewa

Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. [http://id.wikipedia.org/wiki/Kemacetan]

Enjoy your street

Iklan kendaraan bermotor beroda dua seringkali ditampilkan unggul dalam menembus kemacetan dengan mudah dibandingkan dengan kendaraan bermotor beroda empat. Tapi apa hal itu bisa terjadi di semua tempat?

Tidak.

Tersebutlah sebuah daerah bernamakan Babakan Raya, Dramaga, Bogor Barat. Berlokasi tepat di samping kampus Dramaga Institut Pertanian Bogor. Semua orang yang kenal daerah tersebut akan paham kemacetan di jalan tersebut adalah malapetaka.

Salah satu spot di Babakan Raya

Bagaimana tidak, jalan yang didesain dengan lebar ideal untuk dua mobil, di sisi kiri dan kanan jalan dipenuhi dengan pedagang kaki lima, parkir kendaraan pribadi, plus areal ngetem angkot di beberapa titik yang jelas menambah sempit arus lalu lintas.

Pun begitu pula dengan pertigaan Babakan Raya – Dramaga, yang tepat berada di mulut jalan. Pertigaan tersebut mungkin merupakan salah satu pertigaan tersibuk di sepanjang bogor barat, tentunya bila dilihat dari tidak jelas nya penentuan arah arus nya.

Lokasi pertigaan Babakan Raya, Dramaga Denah Arus Pertigaan Babakan Raya, Dramaga

Sketsa di atas menggambarkan kondisi harian di pertigaan tersebut. Jadi kalo ada kemacetan hanya disebabkan oleh hal di atas, masih bisa di maklumi, karena biasanya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menembus kemacetan dengan penyebab diatas.

Sekarang bayangkan jika di jalan dan atau pertigaan sesempit itu ada kendaraan bermotor (terutama mobil) yang mendadak mogok atau parkir lalu ditinggal pemiliknya, bahkan yang lebih gila yang pernah saya liat : memaksakan balik arah di jalan sesempit itu. Macet udah hampir dipastikan, terutama bila kejadiannya di jam padat.

Dan yang perlu di ingat, macet di jalan ini bukan macet biasa. Kondisi jalan yang sempit, sementara jalurnya terbuka untuk dua arah, maka yang biasanya terjadi adalah kendaraan di kedua arus saling memaksakan untuk terus maju, padahal arus di depan sudah tidak bisa bergerak sama sekali. Sementara kendaraan yang di depan, secara otomatis tidak akan bisa mundur ke belakang untuk mengalah, memberi jalan pada arus yang berseberangan agar lancar terlebih dahulu, karena di belakang telah dipenuhi kendaraan lain.

Peta pertigaan Babakan Raya, Dramaga

Bila kejadiaannya sudah sedemikian, lupakan iklan motor yang melengang menembus kemacetan, bahkan pejalan kaki pun bisa ikut kena macet, terutama jika pejalan tersebut terkena macet tepat di spot dimana tidak ada trotoar disampingnya. Kalopun ada, besar kemungkinan trotoar yang ada juga telah “macet” dengan pedagang kaki lima atau puluhan pejalan kaki yang “ngungsi” dari jalan raya.

Nah, jika anda dalam keadaan naas sebagai pejalan kaki yang ikut terkena macet, silahkan cari warung terdekat, pesan makanan sambil perhatikan kapan dan bagaimana macet itu terselesaikan :p

Sekedar saran, karena jalannya memang cukup sempit, rasanya cukup masuk akal bila dibuat rute satu arah, kemungkinan bakal lumayan mengurangi “tabrakan” arus, meski akan ada korban berupa rute angkot kampus dalam yang hanya akan sekali melewati areal kampus.

Peta rute Arus dua arah Peta rute Arus satu arah

Masih belum ditentukan rute dengan warna merah atau hijau sebagai rute masuk atau keluarnya, namun dari sketsa di atas, setidaknya cukup menggambarkan “pengalihan” tabrakan arus. Rute merah adalah rute angkot kampus dalam biasa, sementara rute hijau adalah rute yang biasa dilalui  angkot bila jalan Babakan Raya padat, jadi pengguna angkot kampus dalam pasti sudah paham akan jalur hijau tersebut.

Semoga  ada penyelesaian dari macet-level-dewa ini –a

Postingan ini diikutsertakan dalam Cerita Berantai #2 pada kategori “Hitam” yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Bogor. Pada kategori hitam, barudak blogor menuliskan sisi kelam dari Bogor, beserta saran tentunya :)
 
Postingan “hitam” barudak blogor lainnya bisa dilihat di Cerita Berantai #2 (http://blogor.org/2011/12/06/cerita-berantai-2-bogor/)

16 Thoughts on “Macet Level Dewa

  1. Hanif Mahaldi on January 16, 2012 at 12:58 am said:

    biasanya macet bisa sampai berapa jam mas? sampai level dewa. hehe.

  2. ontohod on January 16, 2012 at 2:01 am said:

    nikmati aja…. banyak yang lebih parah macetnya… level bapanya dewa, kaya dibubulak n pertigaan caringin

  3. pake baling-baling bambu biar ga macet… :-)

  4. nikmatin ajah nikmatin B-)

  5. tingkat frustasi yang dihasilkan oleh kemacetan gara2 angcot kalah jauh dibanding macet gara2 KRS -___-

  6. Karena banyak kendaraan jadi seperti ini, semoga dengan pemberlakuan BBM non subsidi membuat orang lebih memilih angkutan umum di banding angkutan pribadi saat berada di jam-jam sibuk rawan macet

  7. macet oh macet…..

    eh, bro, domainnya “narsis” amat.hehe

  8. wuih postingan gambarnya kereeen mantaf bro !!

  9. repot juga kalo macet.. kalo udah kejebak macet mau motor kek, sepeda kek, rasanya juga bakalan susah lewat.. nah loo macet malah banyak yang jualan, emang sih memanfaatkan keadaan tapi apa nggak nambah macet tuh?

  10. chandra iman on January 24, 2012 at 5:31 am said:

    setau saya jaman dahulu bogor ga ada perempatan sehingga mengurangi kemacetan, well..

Leave a Reply

Post Navigation