Angin dan Riak Sungai di Taman Peranginan

Taman Peranginan. Sebuah nama yang unik kami bilang. Unik karena bentuknya, nama tamannya, pun nasibnya, karena taman ini tak banyak dikenal, bahkan oleh warga bogor sendiri. Ya, di kota Bogor, taman dan ruang publik (public space) untuk bercengkrama dan menikmati udara segar Bogor biasanya Taman kencana, Sempur, Taman Topi dan tak lupa, berkeliling Kebun Raya, landmark dan titik pusat Kota Bogor.

Tadinya kami, tiga warga Bogor ingin menuliskan masing-masing tempat berkumpul ini. Namun akhirnya kami memutuskan, bersatu-padu, mengambil Taman Peranginan sebagai judul karena memiliki berbagai fakta menarik. Dan paling penting, menuliskan keadaan suatu taman yang diperuntukkan sebagai ruang publik terbuka, tapi kita semua mungkin belum memanfaatkannya dan mencintainya. Jadi, tulisan tentang ini kami rasa sangat perlu. Mohon maaf, jadinya untuk keperluan lomba, kami susulkan di hari terakhir ini *fyuuh lap keringet.. Untuk ruang publik lain, tunggu saja tanggal mainnya ya! Kami, pasti tuliskan disuatu waktu sebagai komitmen, bukan hanya sekedar ikut-ikutan lomba. Count us in. Paling tidak itu kontribusi kami sebagai blogger bogor *wink

Taman ini terletak di pinggiran jalan A Yani dan Sudirman. Tak jauh dari Air Mancur Kota Bogor dan menuju Istana Bogor. Tempat yang strategis. Entah, mengapa disebut Taman Peranginan, mungkin, kata teman kami, yang mempelopori adalah orang Batak, Perangin-angin hehe.. tapi kata teman yang satu lagi, karena banyak angin. Ada baiknya jika ingin info lebih jelas, tanya sama yang memberi nama, Dinas Pertamanan Kota Bogor mungkin ya. Jangan tanya kami, yang menulis tentang taman ini. Intinya sih, kalau kesimpulan kami sebagai tim penulis, sepertinya karena taman ini diniatkan untuk bersantai, berleha-leha, sebagai kawasan hijau tengah kota sekaligus memang banyak angin dan pemandangan Ciliwung di bawah sana. Demikian. Hehehe..

Inilah gerbang masuk Taman Peranginan..

Taman ini unik, menyempit menghadap jurang. Dibawahnya Sungai nan deras.  Juga karena luasnya yang tak seberapa lebar. Posisinya pun “menyempil” sehingga bahkan tak banyak yang melihatnya. Luasnya hanya sekitar 50 meter. Tapi posisinya yang membuat taman ini unik. Langsung berbatasan dengan sungai yang beriak. Pas sekali, kami mengabadikan taman ini ketika di tengah-tengah november. Musim hujan dan kesejukan. Kami mem-video dan mem-foto pada sore hari, sesaat setelah hujan reda.

Hmm.. suasana dan kesegarannya terasa sekali. Anda bisa lihat di video seberapa luas sih taman ini dan bagaimana, di “November Rain” ini taman ini segar sejuk. Yah, konsekuensinya, arus sungai meluap sehingga tampak cokelat dan arus deras.

Ada apalagi disana?

Salah satu ciri khas kota Bogor : Pohon berusia puluhan hingga ratusan tahun! Anda bisa lihat ditaman ini, ada pohon yang konon sudah sejak jaman kemerdekaan. Dengan ruang publik yang terbatas ini, memanjang kiri dan kanan, ada jalan setapak yang terbuat dari batu cornblock.Pohon-pohon tua ini bergoyang-goyang bergerak seakan menyambut kedatangan kami, ketika memasuki area taman. Sejenak kami diam, merasakan angin sepoi-sepoi seakan-akan memang menyapa dan membelai rambut dan wajah kami. Luar biasa!

Pohon yang Usianya Puluhan tahun

Pohon Tua, Menambah Adem dan Sejuk

Rumput-rumput hijau menghiasi taman dan ditengah taman ada tempat duduk di sebuah bundaran. Tepat ditengah taman. Semacam taman kecil yang menjadi perputaran arah, menuju ke kiri dan menuju ke kanan. Jika lurus, Menuju ke arah jurang, viewnya indah, perbukitan dan rumah-rumah penduduk dibawah, dengan dibelah oleh sungai yang alirannya deras. Riak air begitu riuh menyejukkan pikiran.

A Boulevard persis ditengah. Ah, ada dua remaja sedang bertukar pikiran..

Sapuan pandangan ke kanan, kita mendapati rumput hijau segar, apalagi sehabis hujan di kota hujan ini.. Ada lampu yang sejatinya menerangi taman pada malam hari. Namun saya rasa kurang terang dan kurang banyak.

Taman Peranginan, Sebelah Kanan Bulevard

Sebelah kiri, jalan lebih panjang. Kami bernyanyi lagu “sepanjang jalan kenangan” dengan syahdunya. Asyik memang, membayangkan mimpi-mimpi hidup, sembari berjalan ringan. Tak ada pedagang, tak ada apapun, hanya menuju ujung taman. Hmm.. perlu lebih banyak renovasi, memang, tapi mudah-mudahan suasana lengang, syahdu, ini bisa dipertahankan.

Memandang ke kiri, berjalan small steps.. dingin, syahdu, berangin!

Tentu, suasana seperti ini harusnya menjadi magnet tersendiri tuk lepas dari kepenatan. Sayang, tak banyak kursi yang ada menghadap sungai sehingga terkesan, taman ini hanya salah satu dari taman hiasan saja ditengah jalan raya protokol. Padahal pengunjung jika diberi fasilitas didekat view danau, tentu senang.  Meja dan kursi bambu misalnya. Plus lilin atau lampu kecil untuk candle light. Boleh pesan ke Kafe di samping (dibuat kafe). Kami rasa, kombinasi Angin sepoi-sepoi dan riak gemericik air sungai mengalir, adalah yoga dan terapi alami. Hmm.. ditambahkan kicauan burung-burung, tentu lebih keren!

Pemandangan Sungai dari Taman. Air Cokelat habis disapu hujan deras

Sungai Ciliwung yang berarus deras ini tanpa putus menuju Jakarta. Ke tempat yang lebih rendah di utara kota. Perumahan di bantaran kali yang sudah ada sejak dulu kala menjadi penghias, alih-alih sumber kesemrawutan seperti di Jakarta. Mereka sudah berdiam sejak puluhan tahun dan memang, kontur Bogor membuat perumahan disekitar aliran sungai ini berundak-undak ke bawah. Salah satu view yang mungkin, bisa dijadikan keunggulan dari taman kota ini jika dikelola dengan baik.

Pemandangan Sungai dari Taman Peranginan Bogor.. Worth to watch!

Boulevardnya sendiri, cocok untuk tempat duduk. Jadi, menurut kami, perlu lah ditata lebih rapi lagi. Sebab bundaran ini bisa menjadi bumerang, karena rimbun dan tak terawatnya maka masyarakat tak melihat taman ini sebagai taman yang indah dari luar gerbang. Ini mesti jadi perhatian. Di dekat boulevard, Ayunan yang rusak tak mengenakkan mata. Apalagi, bagi kami, ketika mendengar “taman peranginan” tentu ingetnya Angin, inget angin, inget juga ayunan yang sepoi-sepoi, batang kelapa atau pohon rindang, dan berleha-leha sambil tidur-tiduran. Hmm.. harusnya begitu tuh!

Fasilitas Ayunan yang Rusak dan Tak Ada Fasilitas Lain

Oh saya tahu taman ini! Celetuk seorang teman. Ini kan, yang sering dipakai pacaran! #halah. Ini nih, salah satu yang tidak sedap beritanya. Taman ini sejatinya, adalah menikmati angin. Jadi dengan konotasi “angin” ini, seperti yang kami sebut sebelumnya, maka perlu-lah dibangun ayunan-ayunan, atau tempat duduk yang nyaman untuk melihat sungai, dan juga harus aman tentunya. Apalagi jika nantinya banyak anak-anak yang bermain di tempat ini. Ingat, taman ini sempit, juga dekat “jurang”. Inilah yang jadi salah satu kendala taman ini untuk saat ini, apabila tak ada solusi cerdik dan inovatif dari pemerintah kota.

Di depan taman ini, adalah tempat yang bersejarah juga, yaitu Bogor Permai, dan didepannya, saban minggu pagi ramai sekali masyarakat bermain skateboard dan dan juga kuliner. Sebab, banyak sekali bubur ayam, soto dan sejenisnya bagi yang ingin makan pagi habis berolahraga pagi ataupun sekedar jalan-jalan. Taman peranginan? Hmm.. sepertinya terlewatkan! Malah yang ingat hanya para pelajar yang suka duduk-duduk dan kalau malam hari, di depan taman ini banyak klub motor yang berjejer hang-out. Kalau ndak salah, scooter jenisnya.

Berbatasan dengan jalan protokol, taman ini strategis sebenarnya. Bisa jadi tujuan masyarakat dan landmark kota juga.

Nah! Sebagai informasi, dari Air mancur hingga Taman Peranginan ini menjadi lokasi klub-klub motor di Kota Bogor untuk mejeng dan bercengkrama sesama anggota klub. Tiap malam minggu. Ramai sekali. Sebenarnya mau kami tulis juga sih, karena juga unik, namun karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat tuliskan mengenai taman ini dulu ya.  Oke, kembali ke soal anak motor, Ketika kami tanya, pada malam minggu, waktu mereka duduk-duduk di depan taman ini, tak banyak yang tahu nama taman ini, dan tak banyak juga yang merasa ingin untuk main ke dalam taman. Ada juga, lagi-lagi #sigh.. lokasi pacaran. Taman ini juga selain tak banyak yang peduli, anak-anak muda ini memanfaatkannya untuk nongkrong, dan mencoret. Sayang sekali.

Coretan di Taman Peranginan, ditambah Tanah Becek

Kurang terawat, tidak juga dirawat oleh masyarakat, menjadi pukulan bertubi-tubi taman ini. Becek dan rerumputan tak terawat di bagian ini terlihat. Taman yang unik, menyempil dan seakan-akan memang berkata, “ya, kami memang sempit, menyempil, dilupakan. Kami pasti akan mati dan jadi tempat kejahatan dan asusila saja di malam hari”. Hmm.. andai, taman ini bisa berteriak.

Tentu banyak hal yang perlu ditingkatkan dari penggunaan taman ini. Saran-saran diatas adalah salah satu saja. Secara garis besar, ada dua hal yang harus dibenahi.

Pertama, tentang tamannya itu sendiri. Ini terkait dengan fasilitas. Kami melihat, ayunan yang ada sudah tinggal besi nya saja. Oke, tempat sampah masih ada, tapi tempat duduk kurang, taman bermain tak ada, ayunan hilang. Ide kami, jika dijadikan sebagai tempat hang-out remaja cukup bagus, dengan membuat meja-kursi di dekat sungai sehingga bisa dibuat daya tarik untuk datang ke Taman ini. Tentu pelayanan dari semacam kafe atau resto, bisa juga bergaya tradisional, menjadi daya tarik juga.

Gerbang yang lebih mencolok dan atraktif sepertinya perlu. Dengan gerbang dan pagar seadanya, ditambah banyak pohon besar, dihantam dengan spanduk-spanduk vertikal (umbul-umbul) iklan yang non-stop dipasang di depan taman ini, menambah terlupakannya sang taman peranginan. Memang, berjalan-jalan di depan taman ini adem sekali, dingin, namun seharusnya, lebih adem jika berada di dalamnya. Tentu, kreativitas untuk taman ini jangan sampai menghilangkan nuansa “green” nya. Sepakat kan?

Pagar Depan Taman Peranginan.. Adem sih kalau lewat untuk jalan, tapi tak mencolok

Penataan taman juga perlu. Jalan-jalan setapak ini, bisa dibuat lebih nyaman dengan pelebaran dan seterusnya. Hmm.. mungkin kalau ada semacam photobooth, tempat suvernir atau pedagang sate ala jepang sepertinya cocok dengan anak muda dan keluarga muda, sehingga pun menjadi tempat favorit untuk foto-foto, rendezvous point (tempat bertemu) dan seterusnya. Dan, kota Bogor punya tujuan wisata tambahan lagi kan?

Taman yang potensial namun butuh perhatian masyarakat

Kedua, peruntukkan taman dan sosialisasinya. Taman ini adalah ruang publik yang tersisa dari sekian ruang publik yang tersedia di Kota Bogor. Ia belum mendapat perhatian banyak, karena memang tak banyak yang merasa perlu kesana, dan tak ada daya tarik yang dikemas dengan baik. Padahal, menikmati suasana angin, sejuk di bantaran dengan horison sungai yang beriak dan mengalir deras merupakan sebuah pengalaman yang asyik.

Saat ini, jika orang tak lupa, maka imej yang ada juga tak baik. Masyarakat yang berjoging ria di minggu pagi pun tak banyak melirik taman ini. Salah satunya, masalah tempat yang tak terawat, dan fasilitas yang tak ada. Bahkan sebagian merasa khawatir mengenai keamanan apabila anak kecil dibawa kesana, sebab dekat dengan jurang. Ini permasaalahan yang perlu dicari solusinya dengan kata kunci ada dua, yaitu : Nyaman, Aman.

Perlu sosialisasi dan pembenahan fungsi terlebih dahulu. Jika memang demikian, maka misalnya, ada kios atau pedagang yang khas disana, ada fasilitas yang ada, dan masyarakat bisa bermain bebas disana. Terutama pasangan muda, keluarga dan remaja. Karena menyajikan romantisme di sebuah taman dengan denyut sungai.. candle light di pinggir sungai, tentu bukan hal yang mustahil, dan bernilai pariwisata juga untuk kota Bogor.

Lengkap sudah kami paparkan taman ini. Sebuah tempat ruang publik terbuka yang entah, salah siapa, dan tak perlu saling menyalahkan, tak banyak termanfaatkan dengan baik. Sengaja, kami, para penulis memilih taman ini, alih-alih tempat lain yang lebih “populer” sebab inilah fungsi blogger sebagai pewarta warga (citizen journalist). Kami kabarkan sudut pandang personal, kami paparkan kisah yang tak banyak diangkat. Tak hanya mencoba menyampaikan berbagai tempat “wisata” dan “taman kota”, kami juga menyampaikan semangat untuk berbuat. Sayangnya, kami tak sempat untuk memfoto dan mem-video kan kondisi malam hari di sekitar taman ini. Mudah-mudahan informasi ditulisan ini cukup jelas bagi para pembaca.

Selamat Datang di Taman Peranginan.. yang terlupakan

Sebagai warga bogor, ayo kita datang dan bercengkrama di ruang bebas, sore dan pagi hari, tentu waktu yang tepat. Kami tak mendapati cerita kejahatan di malam hari disekitar taman, pun asusila. Mudah-mudahan ini sinyal positif, taman ini akan bangkit jadi tujuan masyarakat, minimal di sabtu minggu untuk refreshing. Saat ini memang selalu terlewat, dilewati, dan terlewatkan.

Namun, kami optimis taman ini akan menjadi tempat favorit apabila dikelola dengan baik oleh pemerintah, dan dijaga bersama oleh masyarakat. Karena memiliki keunikan tersendiri sebagai nilai jual. Denyut pariwisata dan bisnis UKM pun akan bertambah jika demikian. Apalagi, berangin-angin di taman peranginan adalah hal yang menurut kami punya sisi keunikan dan keasyikan tersendiri. Berangin-angin, berleha-leha, bercengkrama, senda-gurau lepas penat. Asal, berbaju yang pantas, jangan baju adiknya yang dipakai, nanti malah masuk angin!

Ditulis bersama-sama dan dimuat oleh masing-masing di blog oleh tim “UMR”, Unggul Sagena, Miftah Abdillah dan Rio Hidayat, dalam rangka 3on3 blog competition, ONOFF/Pesta Blogger 2011 dan dalam rangka citizen journalism dan pariwisata.

20 Thoughts on “Angin dan Riak Sungai di Taman Peranginan

  1. kang nur on November 29, 2011 at 9:22 am said:

    tempat seperti itu asyiknya bila ada hotspot area, bisa betah ol…

  2. Wah, jujur aja, saya sering banget lewatin tempat ini
    tapi belum pernah sekalipun saya kunjungi..
    hehehe..padahal tempatnya lumayan bagus

    foto2nya diambil seusai hujan ya?
    tuh air kali Ciliwungnya aja deres banget kayak gitu
    ;-)

Comment navigation

 

Leave a Reply

Post Navigation